TANJUNGPANDAN, DISKOMINFO – Sejak berdiri Agustus 2000, UKM Durio milik Lita Elisa mampu menciptakan lapangan kerja. Jumlah tenaga kerjanya mencapi 21 orang yang tak lain tetangga sekitar. Begitupun jenis produk, sekarang sudah 16 jenis produk makanan dan 52 jenis produk non konsumsi dihasilkan dari produk industri rumah tangga yang beralamat di di Jalan Tanjung Kelayang RT 11/06, Desa Batu Itam, Kecamatan Sijuk.
Motivasi ingin bersaing adalah kunci keberhasilan UKM di desa Batu Itam ini. “Kita harus yakin (bersaing). Benar kata Andrea Hirata, kita harus punya mimpi namun mimpi itu harus diikuti dengan niat” kata Lita. Lita merasa bangga bisa keluar negeri dengan usaha cemilan kripik apalagi ia hanyalah tamatan SMA. Ini semata karena niat yang kuat padahal dulu ia hanyalah pedagang keliling, mengantarkan produk cemilin kripik cumi (kricu) yang mengawali produk usaha itu ke toko-toko. ”Berangkat haji pun seperti mimpi. Tapi itu harus diserta nia “ tegas Lita.
Untuk mengembangkan usahanya. Lita tergolong ulet dan mengedepankan disiplin. Sisa usaha setiap produk ia sisihkan, keuntungannya untuk menghasilkan produk lain hingga menghasilkan banyak produk dan beragam seperti sekarang ini. Penghasilan pun berkembang dari tahun ke tahun.
Tekadnya memiliki outlet sendiri seperti layaknya pengusaha keturunan sukses turut memicu semangatnya. “Saya ingin punya outlet melayu seperti kebanyakan pengusaha Cina Alhamdullilah berhasil dan sekarang kita punya outlet sendiri” kenang Lisa.
Namun keberhasilan bukan tanpa hambatan. Banyak outlet langganannya tiba-tiba mengurangi pesanan cemilan kripik cumi andalannya. “Toko oleh-oleh yang dulu memesan hingga 500 bungkus, semenjak punya outlet tiba-tiba mengurangi pesanan turun hingga 100 bungkus. Tapi saya tak peduli yang terpenting saya bermitra dengan mereka” ujar Lita yang menganggap wajar dalam persaingan dalam dunia usaha.
Saat jerih payah mulai dirasakan. Ia tidak abai dengan kondisi yang dialami rekan sesama KUKM. Menurutnya, bukan sedikit pelaku UMKM yang dibiarkan, tidak dibina lagi begitu usaha mereka mulai menujukkan hasil. Seharusnya pembinaaan itu berkelanjutan. Melihat kondisi yang dialami rekan seperjuangannya. Lita berharap pemerintah jangan meninggalkan pelaku usaha kecil.
“Kepada dinas saya minta tolong titip (pesan). Jangan berhenti membina ketika UKM itu mulai terlihat maju. Jangan dilepaskan. Pernah kami diundang ke Malaysia tapi kami tidak didukung (dibantu). Jadi (jangan heran) kalau ada UKM yang sudah punya mobil sampai dua tetapi kalau mengantar barang menggunakan motor beriringan. Karena mereka takut dianggap maju, Prinsipnya jangan terlihat kita maju“ ujar Lita dengan suara agak tinggi.
Sejak diproduksi tahun 2000 lalu, produk cemilan merk Durio sudah dipasarkan hingga Filipina. Beberapa produk makanan olah yang diproduksi Durio selain cemilan kripik cumi antara lain makanan hasil olahan kulit buah pisang.
Lita mengakui, peran pemerintah itu besar dalam mendukung usaha kecil. Tahun 2012, ia ia juga mendapat bantuan dari Dinas Perikanan berupa rak, sebagian ada yang mendapatkan bantuan freezer. Namun yang membuat termotivasi ketika didorong untuk membuat galeri mini. Setiap bulan penyuluh dari Dinas Perikanan datang memberikan penyuluh.
“Saya kurang setuju sikap pemerintah membiarkan UKM karena bantuan dibutuhkan. Kalau soal persaingan tidak ada masalah” ungkap Lita. Meskipun saat ini banyak yang memproduksi keripik cumi bahkan mencapai puluhan produk kricu sementara produk kricu merek Durio lebih mahal.
Meski dijual dengan harga cukup tinggi, ketika sudah menjadi agen, tidak masalah pengecer menjual dengan harga lebih tinggi selama mutu produk dijaga. Untuk itu Lita tidak mengandalkan mesin. Pemasarannya dilakukan dengan sistem tunai dan konsinyasi (titip jual). “Untuk kricu dengan berat 100 gram kami jual dengan harga Rp12 ribu dan dipasaran dijual bisa dengan harga Rp17 ribu. Kepada pengecer tetap dijual Rp12.000 per bungkus” pungkas Lita sebagaimana diceritakan oleh Alexander Ihsan dari Dinas Pariwisata Kabupaten Belitung. (fithrorozi)