PENDAHULUAN

Muara Sungai Misisippi yang kadung tercemar menyadarkan masyarakat lokal di bentaran sungai untuk kembali rindu pada nilai-nilai tradisional. Studi kasus pengembalian sungai Missisippi merujuk pada cara masyarakat Indian bertahan hidup di muara sungai. Barataria Terrbonne National Estuary program adalah program Nasional Pemerintah Amerika Serikat mengadopsi pengetahuan dan kearifian masyarakat Indian untuk mengembalikan  Sungai Missisipi seperti sediakala. Misisippi sudah berubah, dimana terjadi kerusakan hutan, hilangkan delta akibat tumbuhnya industri sekitar muara sungai. Program ini bisa menjadi success story yang memakan waktu yang lama dengan penglibatan cukup luas termasuk perusahaan besar.

Istilah etno sain mungkin tidak banyak dikenal di dunia kampus karena istilah ini muncul dari pengetahuan yang dimiliki masyarakat lokal. Meski terkesan tidak sistematis namun jika didiskusikan memiliki pola yang tak jauh dengan pendekatan ilmiah.

Sosial Ekologi dan Etno Botani

Menggabungkan hubungan sosial antar masyarakat dengan berbagai aspeknya dengan ekosistem di mana manusia hidup, disebut dengan Ekologi Manusia (Human Ecology), di mana interaksi sosial di antara manusia menghasilkan hubungan saling mempengaruhi antara sistem sosial dengan ekosistem sekitar. Ekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya, sementara ekologi manusia adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya. Dalam ilmu ekologi, lingkungan tempat hidup disebut dengan ekosistem.

Ekosistem terdiri dari ekosistem alam dan ekosistem buatan manusia. Ekosistem alam dapat berupa hutan primer, hutan sekunder, hutan kerangas, padang rumput, hutan lahan basah, hingga ekosistem perairan tawar maupun asin. Ekosistem buatan manusia dapat berupa daerah tambak, lahan pertanian, sampai kepada pemukiman padat penduduk di perkotaan. Dari segi ukuran ekosistem bisa berupa kolam kecil, kampong, kota, kota besar, bahkan planet bumi dapat disebut sebagai sebuah ekosistem. Bagian hidup dari ekosistem disebut dengan komunitas biologi (biological community). Walaupun manusia termasuk bagian dari ekosistem, perlu diingat bahwa peranan manusia di dalam ekosistem adalah hubungan interaksi antara ekosistem dengan sistem sosial.

Sistem sosial adalah tatanan mengenai masyarakat manusia, populasi, psikologi dan organisasi sosial yang mempengaruhi perilaku mereka. Adanya kebutuhan manusia terhadap sesuatu yang berasal dari lingkungan sekitarnya, adanya kehidupan sosial, lembaga-lembaga sosial, perangkat teknologi dan ilmu pengetahuan, semuanya akan sangat mempengaruhi interaksi sistem sosial dengan ekosistem.Tingkat akurasi kebutuhan manusia terhadap ekosistem, pola kehidupan sosial yang bagaimana, penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tepat atau tidak, tentunya akan menentukan arah berjalannya sebuah ekosistem.

Unit sistem sosial terkecil adalah keluarga. Di dalam sebuah keluarga yang terdiri dari kepala keluarga dan anggota atau beberapa anggota keluarga terjadi interaksi sosial antar individu di dalam keluarga dan interaksi antara individu-individu dengan ekosistem sekitar. Interaksi sosial di dalam keluarga akan menghasilkan pertukaran informasi, pendidikan, modal sosial, dan cara-cara meningkatkan kualitas kehidupan, yaitu dalam hal pemenuhan kebutuhan materi maupun non materi. Interaksi sosial ini berakibat penting terhadap interaksi individu-individu dengan ekosistem sekitar. Dari gabungan keluarga-keluarga akan terbentuk ekosistem sosial yang lebih besar berupa kampong, kota, bahkan masyarakat dunia.

Hubungan sistem sosial-ekosistem adalah ekosistem menyediakan layanan bagi kebutuhan-kebutuhan manusia. Layanan ini membentuk aliran material, energi, dan informasi dari ekosistem ke dalam sistem sosial. Layanan ekosistem berupa air, bahan bakar, bahan makanan, bahan pakaian, material bangunan dan rekreasi. Manusia beraktifitas, akibatnya terjadi aliran balik material, energi dan informasi dari sistem sosial ke dalam ekosistem. Adanya layanan dan aliran balik ini menghasilkan hubungan sebab-akibat yang saling mempengaruhi antara keduanya. Tersedianya layanan ekosistem yang dapat dimanfaatkan oleh manusia memungkinkan sistem sosial berjalan dan berkembang. Seiring dengan itu sebagai konsekuensi dari pemanfaatan ekosistem dan aktifitas manusia di dalam sistem sosial akan menimbulkan pengaruh pada kondisi ekosistem.

Bilamana manusia menggunakan sumberdaya ekosistem seperti air, kayu, ikan, hewan ternak, dan sebagainya maka manusia mempengaruhi ekosistem. Setelah menggunakan material dari ekosistem, manusia membuang limbah kembali ke dalam ekosistem. Manusia tidak jarang secara sengaja merubah ekosistem yang ada, membuat yang baru, meningkatkan layanan ekosistem yang lebih baik bagi perkembangan sistem sosial. Dengan tenaga manusia atau mesin, masyarakat menggunakan energi untuk merubah, memodifikasi atau membuat ekosistem dengan memindahkan material di dalam maupun antar ekosistem. Mereka  mentransfer informasi dari sistem sosial ke dalam ekosistem ketika mereka merubah, membuat ataupun mengorganisir kembali sebuah ekosistem. Budidaya tanaman oleh petani, jarak tanam di lahan, pengubahan komunitas biologi dengan menyiangi rumput, memodifikasi kimia tanah dengan pemakaian pupuk adalah contoh bukan hanya transfer material, tetapi juga terjadi transfer informasi, karena petani me-reorganisir ekosistem pertaniannya (Marten, 2000; Human Ecology).

Banyak budaya  masyarakat yang berkaitan dengan konsep berumah tangga, bermasyarakat bahkan bernegara. Dalam lingkup domestik, tradisi ini membentuk adab dan cara berkomunikasi, membuat kesepakatan sosial hingga yang mendasar memenuhi kebutuhan hidup.

Pandangan naturislitik masyarakat melayu menjadi pengetahuan yang diabadikan dalam bentuk tradisi. Tidak hanya berfokus pada makanan, tetapi pada dunia pengobatan tradisional. Pengetahuan ini didapat dengan melihat fenomena alam yang terjadi sehari-hari atau   buah yang dimakan hewan. Seperti anggapan akar yang melilit ke kiri dianggap beracun dan akar yang melilit ke kanan dianggap tidak beracun.

Dari  pandangan naturalistik ini berkembang pengetahuan tentang tata nama tumbuhan atau klasifikasi lokal. Betor belulang, betor rimbak, betor mimar, betor padi mengacu pada satu genus yakni genus callyphilum. Begitupun pelawan pupor, pelawan kiring, pelawan tudak mengacu pada genus tristania. Hampir semua jenis pohon medang yang dikenal oleh masyarakat lokal. Hampir semuanya merupakan family Lauraceae.

Dari persoalan makan, berkembang jenis makanan (culinary), cara makan, wadah makan, cara memasak. Yang lebih banyak dikenal tradisi makan bedulang. Tradisi ini tidak hanya berfokus tara menyajikan makanan atau adab tetapi terkait soal memperhatankan ekologi. Jika kita mempertahankan dulang kayu maka kita mempertahankan habitat atau ekosistem dimana bahan baku dulang kayu itu diperoleh. Artinya tradisi  ini berhulu pada aspek yang lebih luas mulai dari sistem perladangan ‘tebas-tunu-tanam-tinggal’ (slashburn agriculture) hingga pada bagaimana melakukan konservasi ekosistem terkait dengan persiapan makan bedulang.

Makan bedulang adalah tradisi jamuan makan bersama yang berlangsung pada berbagai upacara adat, seperti pesta pernikahan, selamatan kelahiran, ruahan, bilang ari ataupun upacara adat lainnya pada masyarakat pulau Belitong. Bahkan acara mendirikan fondasi rumah pun, makan bedulang biasa dilakukan.  Keluarga Melayu Belitong juga biasa makan bedulang dalam rutinitas makan sehari-hari.  Makan Bedulang dilaksanakan dengan cara makan bersama terdiri dari empat orang berhadap-hadapan  pada satu dulang (talam, nampan) berbentuk bundar yang diatasnya telah tersedia lauk pauk khas Belitong. Nasi, minuman, buah-buahan dan panganan kecil ‘pencuci mulut’ disediakan dalam nampan kecil secara terpisah diletakkan di samping dulang. Seperangkat dulang yang disajikan terdiri dari satu, dua atau lebih, tergantung jumlah orang yang akan makan. Setiap perangkat dulang disajikan untuk 4 orang.

Makan Bedulang dipandang dari sudut budaya merupakan satu cara merekatkan hubungan sosial mulai dari antar anggota di dalam keluarga hingga antar anggota masyarakat dalam satu wilayah kampong  atau lebih luas lagi. Makan Bedulang menunjukkan pentingnya kebersamaan di dalam kehidupan masyarakat melayu Belitong. Bila kita tinjau lebih lanjut, perangkat atau komponen-komponen yang digunakan di dalam acara makan Bedulang ini, dapatlah kita gambarkan lebih ke hulu tentang kegiatan-kegiatan masyarakat Belitong yang ternyata bukan hanya sekedar konsep hubungan antar manusia (social system) yang ditekankan, tetapi lebih jauh lagi adalah bagaimana menjalankan konsep hubungan manusia baik sebagai individu maupun kelompok dengan lingkungan alam sekitarnya (ecosystem).

Terkait dengan adab, makan bedulang menggiring bagaimana anak-anak diperkenalkan hidup bermasyarakat, cara berbagai dan cara melindungi pribadi orang lain. Untuk mempertahankan adab tentu terkait dengan ruang. Dapur  terbuka, telasar tempat menghidangkan makanan membutuhkan atap. Atap ini saja berkait erat dengan bahan baku. Sehingga mempertahnkan tradisi makan bedulang menuntut kita untuk menjaga teknologi dan sumberdaya pendukung tradisi ini.  Pendekatan slashburn tidak sampai memusnahkan ekosistem tetapi dibatasi karena terkait dengan ketersediaan di masa depan. Hal ini menimbulkan kesepakatan sosial bahwa menjadi penting untuk menjaga ekosistem.

Menelusuri kembali proses panjang yang terjadi sebelum sampai kepada acara makan Bedulang, berarti mengurai bagaimana masyarakat Belitong berkehidupan secara individual dan sosial serta hubungan masyarakat Belitong dengan ekosistem tempat mereka hidup. Produk-produk mulai dari peralatan, perlengkapan hingga hidangan yang tersaji dalam acara makan Bedulang adalah hasil interaksi antara sistem kehidupan sosial masyarakat Belitong dengan ekosistem sekitar, baik itu berupa ekosistem alami maupun ekosistem buatan. Makan Bedulang merupakan tempat terkumpulnya produk-produk lokal masyarakat melayu Belitong yang secara tradisional berupa produk-produk yang berhubungan langsung baik dengan ekosistem alam maupun ekosistem agrikultural organis alami, di mana teknologi sederhana yang justru melibatkan sistem kerjasama mikrobiologi, seperti proses pembuatan rusip dan pekasam, telah lama diterapkan oleh masyarakat tradisional Belitong.

Sebagai contoh, tikar yang digunakan sebagai alas untuk duduk menghadapi hidangan dan tudung saji (mentudongan) dibuat dari bahan tumbuhan yang sama yaitu mengkuang (Pandanus atrocarpus) atau lais (Pandanus furcatus), merupakan tumbuhan hutan yang tumbuh di lahan basah (mengkuang) dan hutan lahan kering (lais). Secara ekologis masyarakat bersama-sama menjaga keberadaan hutan agar habitat kedua jenis tumbuhan ini tetap terjaga. Pengetahuan tentang bagaimana cara memproses daun kedua tumbuhan mulai dari memotong daun, meraut, merendam menjadi jage, mengeringkannya, sampai menjadi produk berupa tikar, tudung saji maupun peralatan lain, telah menjadi pengetahuan lokal yang umum di kalangan masyarakat kampong di Belitong.

Pemanfatan tanaman liar seperti Nubong (Tacca leontopetaloides) yang tumbuh berlimpah di seluruh pesisir pantai Pulau Belitong dan pulau-pulau kecil disekitarnya (adjacent islands), dimanfaatkan umbinya dengan diproses menjadi Sagu (pati). Proses ini melibatkan teknologi sederhana untuk menghilangkan kandungan racun Sianida yang cukup tinggi, kerjasama sosial dalam pengaturan pemanenan yang membuat tanaman ini selalu tersedia di alam. Ini menunjukkan keberadaan konsep sosial ekologis terapan yang dimiliki oleh masyarakat Belitong. Tepung Sagu (pati) dari tanaman Nubong ini biasanya diolah menjadi makanan ringan seperti rintak, sagon yang menjadi hidangan pencuci mulut pada acara makan Bedulang.

Masyarakat Melayu Belitong menanam pohon Sagu (Metroxylon sago) pada lahan basah di dalam hutan Riding yang pada masa kini menjadi hutan batas kampong. Ini merupakan proses domestikasi alami di mana bibit-bibit pohon Sagu ditanam disela-sela tumbuhan hutan sehingga di kemudian hari menjadi menyatu seperti hutan asli atau tersuksesi menjadi hutan homogen, di mana pohon-pohon Sagu menjadi lebih dominan. Tumbuhan sagu ditanam untuk diambil pati yang terdapat diseluruh batangnya sebagai bahan pangan pengganti beras pada masa paceklik atau dibuat panganan lain untuk makanan penyelang. Pengolahan pohon sagu menjadi tepung sagu ini biasanya dilakukan oleh beberapa orang dengan bekerjasama dan kemudian berbagi hasil berupa tepung sagu basah. Kulit pelepahnya dianyam untuk digunakan sebagai dinding gubuk atau langit-langit rumah. Daun tumbuhan ini juga dimanfaatkan sebagai bahan pembuat atap rumah, paun, membarongan atau bangunan dapur untuk memasak makanan yang sampai saat ini masih digunakan di daerah pedesaan. Selain itu hutan sagu juga menjadi  daerah tempat resapan air, di mana air akan tersimpan dan teresap dengan baik di tempat-tempat yang banyak ditumbuhi pohon sagu.

Kayu bakar yang digunakan untuk memasak makanan yang akan dihidangkan, merupakan pohon- pohon yang tumbuh secara alami di hutan, biasanya kayu-kayu jenis Pelawan kiring (Tristania obovata), Samak (Eugenia lepidocarpa), Jemang (Rhodamnia cinerea) dan beberapa jenis lainnya. Ketersediaan kayu- kayu ini tentu tergantung dari bagaimana masyarakat suatu kampong  membuat kesepakatan sosial untuk mengeksploitasi hutan di sekitar kampong mereka dengan bijak. Dengan perkataan lain bahwa masyarakat suatu kampong harus pandai membuat kalkulasi bersama, seberapa banyak kayu bakar yang harus mereka ambil setiap satuan waktu (hari, minggu, bulan, tahun) agar tetap dapat memanfaatkannya secara berkelanjutan, sesuai dengan kapasitas bawa (carrying capacity) ekosistem hutan  di kampong mereka, hingga mereka kembali menebang kayu di tempat yang sama dikemudian hari. Kapasitas bawa (carrying capacity) dapat didefinisikan sebagai kemampuan suatu ekosistem untuk menyangga kehidupan makhluk yang dapat hidup dalam ekosistem tersebut atau jumlah populasi maksimum suatu jenis makhluk (tumbuhan atau hewan)  yang dapat didukung oleh sebuah ekosistem dalam waktu yang lama (Marten; Human Ecology, 2000).

Pengetahuan masyarakat tentang jenis-jenis kayu yang baik dan aman untuk digunakan sebagai kayu bakar menjadi pengetahuan local (Ethnobotany) yang penting dalam pola kehidupan sosioekologis masyarakat, apalagi kayu bakar tersebut akan dipergunakan untuk kepentingan memasak makanan bagi orang banyak. Beberapa jenis kayu dapat mengakibatkan keracunan makanan apabila dibakar, seperti Parak (Amoora sp). Jenis lain menyebabkan keracunan akibat menghirup asapnya, seperti Melantangan (Dysoxylum sp). Beberapa jenis lain tidak bisa terbakar dengan baik sehingga akan berpengaruh terhadap mutu hasil masakan.

Beberapa jenis produk lain tidak dapat diuraikan di sini karena akan terlalu panjang. Cukuplah disebutkan contoh seperti, umbut nangak, daun nangak, pucok iding-iding, pucok renggadaian. Hasil-hasil perikanan darat non-tambak, perikanan laut dan produk pesisir lainnya. Produk-produk tanaman pangan organis yang dihasilkan dari sistem pertanian tradisional (berume) seperti  padi ume (beras darat), jawak (jawawut), jelai beras, kembilik (gembili), menggale (ubi kayu) yang juga merupakan hasil dari interaksi sistem sosial-ekosistem dan konsep keberlanjutannya (sustainable development).

Sumberdaya yang berlimpah tidak mungkin bisa terjaga tanpa ada kesepakatan sosial. Termasuk dalam memenuhi sumber makanan dari hewan di hutan. Ngenjerat pelandok (Tragulus Javanicus) tak luput dari kesepakatan sosial seperti larangan berburu di hutan larangan dan mempertimbangkan populasi dan waktu berburu yang tepat. Kesepakatan tidak berburu pada saat  bulan purnama menunjukkan adanya pengetahuan tentang etno ekologis karena bulan purnama mempengaruhi hasrat kawin binatang-binatang di hutan. Dan ternyata pembakaran semak secara terkendali dikaitkan untuk pasokan makanan pelandok dan hewan buruan lain. Ada pula kesehatan untuk tidak memburu hewan yang sedang hamil.  Sehingga kesepakatan sosial itu menjadi bagian tidak terpisahkan dalam menjadi keberlanjutan hewan di hutan.

Hutan bukan hanya tempat  hewan buruan hidup. Hutan juga harus dilihat dari perspektif yang lebih luas yakni sebagai penyeimbang kehidupan sosial itu sendiri. Hal ini terlihat dengan cara membangun landskap. Diawal dari membuka hutan rimbak untuk membuka huma telah melibatkan tokoh adat. Penetapan tempat bertani mempertimbangkan kepatutan ekologi sedang kesepakatan penetapan hutan larangan dan hutan yang boleh dikelola didasarkan pada kelengkapan spesies hewan dan tumbuhan yang ada serta kelengkapan jaring-jaring makanan dalam sistem ekologi dan pada akhirnya akan mendukung pola pertanian yang efisien. Penetapan hutan riding misalnya diketahui sebagai tempat perkembangan hewan lain, bio revelent, keseimbangan (pemangsa hama dan pendukung). Sikap atau elang kecil () bersarang ditempat populasi perit tinggi. Sedang perit (Lonchura spp) merupakan hama padi. Tali kepang hidup di hutan riding, saat ini buran tali kepang (Terpsiphone paradisi) akan berburu hama seperti walang sangit.

Begitupun hutan riding, akan berfungsi sebagai plasma nutfah bibit tanaman-tanaman hutan yang akan tumbuh kembali setelah lahan pertanian ditinggalkan (bebak) yang tidak langsung dipersiapkan untuk landskap pertanian.

Berawal dari upaya untuk kebutuhan makanan. Hutan primer berubah menjadi hutan  primer yang dikelola (cultivated area). Pola gilir pergantian landskap ekosistem hutan dimulai dari terbuka hutan primer menjadi lahan pertanian (cultivated area). Setelah lahan pertanian ditinggalkan akan menjadi hutan sekunder muda (bebak baru). Bebak baru akan menjadi hutan sekunder tua atau dikenal dengan istilah bebak usang. Pada masa berikutnya akan menjadi rimba (hutan primer) kembali. Apabila lahan pertanian tersebut akan dipakai untuk pertanian padi mereka terlebih dahulu menanam dengan pohon buah  namun pola tanamnya tidak beraturan tetapi lebih lebih berorientasi pada verma culture yang kini banyak dikembangkan di negara barat. Pertimbangannya ketidakteraturan pola tanam itu justru menjadi cadangan air bagi pertanian.

Akses sumberdaya menjadi pemicu berkembangan pengetahuan lokal berbasis etno sain. Kehidupan pesisir identik dengan nelayan. Sumberdaya kelautan tidak hanya laut  tetapi ekosistem mangrove. Dengan demikian pelestarian mangrove diyakini dapat menunjang ketersediaan makanan baik dalam mendukung rantai kehidupan pesisir itu sendiri maupun bagi kehiduapan sosial masyarakat secara umum. Begitupun terumbu karang. Sawar atau tempat ikan bersarang ini dikenal dengan pohon kabal. Karenanya sebagai besar nelayan menjadikan pohon kabal sebagai dayung. Terumbu karang didasar laut bisa diketahui dari getaran yang ditimbulkan dari pohon kabal ini.

Lahan tersebut menjadi kebun buah yang dikenal dengan istilah kelekak.  Pada saat pohon di kelekak sudah tua dan bercampur dengan tanaman hutan. Areal ini menjadi kelekak usang yang mulai terlihat seperti hutan. Perubahan landskap ini pada prinsip tidaklah berubah serta merta tetapi berlangsung bertahap (gradual) dan memiliki pola ekologis.

Meranti (dipterocarpaeces) sekunder muda  (mengkirai, mentenok, unjak-unjak) dan jensi pelawan dan betaon Sekunder tua, sekeunder muda mati lalu tumbu sengekerubong, pelaik dan pohon lempung lain, piabong, tukak. Lalu setelah tebal lapisan hara taah tebal menimbuilkan bakteri dan jamur tertentu. Ketika itu bunga merante yang terbang tumbuh dibantu bakteri termasuk tanaman yang dibawa oleh kera dan kondisi ini mengarh ke hutan primer kembali.  Dalam Skema pergiliran landskap namun  padangan atau terajak tidak seperti itu, tapi dalam bentuk yang berbentuk berbeda.

Entomologi (Ilmu Tentang Serangga)

Entomologi adalah salah satu cabang ilmu biologi yang mempelajari serangga. Istilah ini berasal dari dua perkataan latin yakni entomo yang berarti serangga dan logos yang berarti ilmu pengetahuan. Serangga memiliki andil dalam perkembangan ekosistem di muka bumi. Interaksi antara serangga dan  manusia sudah berlansung sejak manusia ada dan hidup di dunia. Seranggamempunyai peran penting dalam kehidupan manusia. Ada banyak beberapa cabang entomomologi mencakup   Morfologi Serangga, Anatomi dan Fisiologi Serangga, Perilaku (behavior) Serangga, Ekologi Serangga, Patologi Serangga dan Taksonomi Serangga

Meski cabang ilmu entomologi kurang diminati, masyarakat lokal sudah berada tahap implementasi. Bagimana teknologi untuk memengundang madu dan cara  memanen madu sudah lama dikenal hangga penanda dari perubahan iklim. Ketertarikan ilmu entomologi dikatikan dengan sosial ekologi masyarakat lokal ternyata menarik minat peneliti asing .

Serangga yang paling akrab dalam kehidupan masyarakat melayu Belitong salah satunya lebih. Lebih dikenal karena menghasilkan madu. Ada tiga jenis lebah yakni teran (Trigona sp), nyirun (Avicerana sp) dan lebah hutan (avisdorsata). Dua serangga yang disebut di awal agak kurang diperhatikan karena produksi madunya rendah sedang yang paling banyak dikembangkan adalah lebah hutan (avisdorsata). Avisdorsata adalah lebah hutan liar yang hingga kini belum dapat dibudiayakan dikarenakan liar  tetapi masyarakat melayu Belitong dapat menjinakkan lebah menggunakan sunggau.

Untuk mengindentifikasi perubahan iklim diketahui dari air yang diproduksi madu. Pada bulan tertentu terdapat  jenis bunga pohon tertentu pula.  Bunga mentepongan dan samak misalnya,  menghasilkan air madu berwan kuning akan berubah  menjadi coklat hingga berwarna hitam ketika pohon beberi mulai berkembang. Saat madu sudah berwarna hitam, dianggap pertanda bahwa madu tidak lagi produktif, ketika itu madu pecah koloni. Mereka hidup  ke bakau-bakau menjadi mog lalu ke berkumpul kembali ketika iklim membuat bunga-bunga dari pohon hutan mekar.

Dari sisi teknologi, entomologi lokal ditunjukkan dengan jenis-jenis atau cara mengundang madu hinggap. Rendap atau lorong masuknya madu dikenal banyak cara dengan mempertimbangkan arah angin dan sinar matahari. Dengan  rendam masyarakat paham bagaimana memposisikan diri sehingga dasar untuk membuat sunggau (sarang lebah). Jenis rendap yang dikenal meliputi rendap telage dan rendap arong. Dengan mengamati rendap, tingkat keteraikan madu bersaranga pada sunggau yang dibuat efektif.

Beberapa jenis  sunggau yang dikenal yakni sunggau nunggat, sunggau bantai dan sunggau tana atau sunggak muke. Jenis sunggau itu mengikuti pengetahuan tentang ekosistem. Sunggau nunggat berupa dua kayu rapat sedang  diujungnya sarang atau mungkin dua sarang ada di rimbak atau sekunder tua seperti pohon betor pelawan menggunakan sunggak bantai, untuk hutan yang tidak terllau lebar sekunder muda atau semak belukar. Sunggak tugak muke untuk daerah padangan, terajak, satu tiang menghunjam ke tanah. Sifat-sifat dari teknologi itu menunjukkan pemahaman tentang ekosistem, pola penyebarang madu, dan karakter pohon itu sendiri.

Selain itu, memanen madu hutan memerlukan syarat dan keahlian tersendiri. Umumnya madu bisa dipanen 2-3 minggu setelah sunggau dihinggapi. Muar (panen) madu dilakukan dengan meng-asap-i sarang dengan daun-daun tertentu dan jenis kayu tertentu dengan mempertimbangkan kemampuan kayu yang mampu terbakar lama. Setelah kayu dan dedauan dikumpulkan, diikat dengan akar sebelum ditutup dengan kulit kayu seperti kulit kayu gelam atau beberi. Jenis daun yang umum digunakan seperti daun betor belulang (Callaphylum sp) tujuannya Asap yang dihasilkan akan membuat lebah meninggalkan sarang,  daun asam kandis (Garcineae Partiflora) fungsinya untuk menutupi aroma tubuh manusia sehingga lebah jinak. Ketiga daun larak api (indet), dimaksud agar lebah yang pergi bisa datang kembali ke sarang.

PENUTUP

Apa yang Sosio Ekologi, Etno botani dan Entomologi saling terkait namun tidak tersimatis dalam tata kehidupan masyarakat lokal Belitong. Oleh karena itu Etnosain tidak dilokasir justru harus dikembangkan lebih lanjut baik terkait dengan cabang-cabang ilmu modern. Makalah ini diharapkan dapat menggugah masyarakat bahwa traidisi dan budaya yang berkembang tidak lagi sebagai warisan usang. Sebaliknya menjadi kekuatan dalam mempromosikan pengetahuan ke tingkat yang lebih luas.(Marwan Hasan)

Sumber: buletin belitong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *