Pak Ani, Penyeimbang Pasar Belacan Sijok

SIJUK, DISKOMINFO – Resep sambal belacan ini aq pakai belacan dari desa sijuk di daerah Belitung yg kebetulan di kasih teman yg baru plg mudik dari Belitung. Belacan adalah nama lain dari terasi. Orang Belitung/Melayu pada umumnya menyebut terasi dgn sebutan belacan. Belacan nya bener2 beda dgn belacan yg pernah aq beli. Belacan nya kyk ada rasa manis dr udang seger gitu dan mungkin ini yg bikin harga belacan ini agak mahal. Pakai belacan ini pun aq ga ada menambahkan gula sedikitpun. Jadi citarasa sambal ini mantap bgt lah… (Merie Prayatna Mazrial). 

Nama Belacan Sijok tidak hanya karena dihasilkan oleh orang Sijok namun karena di Sijoek titik awal dari distribusi  belacan. Pak Ani Hasan, generasi ketiga dari produsen belacan Sijuk mengungkapkan sebenarnya udang rebon-bahan utama belacan-berlimpah di perairan Belitung. “Kalau bulan satu ada di Sungai Padang, bulan tiga atau empat seperti sekarang ini musimnya di Sijok terus hingga ke pantai Air Saga Tanjungpandan dan berpindah ke pantai-pantai lain di pulau Belitong” ujar Pak Ani yang mengaku sudah  20 tahun menekuni profesi sebagai pembuat belacan.

Tidak hanya Merie, sejumlah produsen dari Belanda pun sempat mendatangi Pak Ani karena penasaran belacan yang dibuat Pak Ani. “Sekitar tiga mobil mereka datang ke sini. Saya diperlihatkan macam-macam terasi yang mereka buat tapi mereka masih ingin mencari belacan Sijok untungnya masih dapat satu lubuk (karung kecil terbuat dari anyaman daun lais). Mereka juga pembuat terasi. Macam-macam bentuknya, ada yang berbentuk odol dan ada yang berbentuk tepung“ tutur Pak Ani.

Pak Ani pernah ditawari mengikuti studi banding pembuatan terasi ke Lampung namun kesempatan itu tidak diambil lalu diganti orang lain. Bukannya tidak ingin meningkatkan produksi. Bicara belacan Sijok bukan semata-mata memperbesar hasil tapi bagaimana menyimbangkan antara produsen dan konsumen. Aroma, citarasa dan warna yang menjadi ciri belacan Sijok harus dipertahankan.

“Kalau udang didapat sampai 100 kilogram, biasanya dibagi tiga. Ada yang kualitet satu, dua, tiga. Tidak bisa semuanya kualitas satu” ungkap Pak Ani. Karena udang yang ditangkap dari laut dan tidak segera diolah akan berpengaruh dengan warna, citarasa dan aroma.

Suatu ketika, ia didatangi pengusaha dari Batam yang ingin membuat terasi dalam skala hingga ton-an dengan citarasa belacan Sijok. “Nah kalau banyak saya tidak sangggup. Kalau sudah besar jumlahnya pasti rasanya beda tidak seperti yang biasa orang Sijok buat“ ujar Pak Ani. Menurutnya kuantitas menentukan kualitas setidaknya ada bahan campuran yang membuat terasi berubah rasa, warna dan aroma. “Banyak yang mencampur terasi dengan kulit manggis atau mencampurkan belacan Sijok dengan terasi-terasi dari daerah lain diatasnya baru dimasukkan belacan Sijok. Saya tidak mau seperti itu.“ ujar Pak Ani.

Bukan hanya pelanggan yang ia perhatikan, nasib pembuat lubuk-kemasan teras juga dipertimbangkan. Pernah disarankan merubah kemasan tapi ia tolak. Alasannya belacan, juga menghasilkan pendapatan bagi si pembuat lubuk. Pak Ani mengeluarkan uang Rp15.000 untuk 20 buah lubuk berukuran 10-20 ons. “Dulu lubuk yang dijual ke pasar berukuran 50 kilo. Dari pedagang pasar  diecer lagi menjadi  lubuk ukuran 10-20 ons. Untuk ukuran 10-20 ons harganya sama, satuannya Rp500” ujar produsen terasi secara tradisional ini. Ia membeli lubuk dari harga Rp1.000 per 20 buah hingga mencapai harga Rp.5.000 seperti sekarang ini.

Pak Ani adalah generasi ketiga dari pembuat terasi secara tradisional dari Sijok yang masih bertahan. “Saya bertahan karena sudah menjadi budaya masyarakat.“ tutur Pak Ani yang mengaku mulai membuat belacan Sijok sejak usia 16 tahun. Kini kakek dari dua cucu ini menginjak usia 60an tahun.

Masih banyak rahasia citarasa belacan Sijok ingin ia ceritakan. “Wah, tidak mudah membuat belacan Sijok, ujar pak Ani sambil menikmati suguhan yang sudah dibuatkan istri.” Nampaknya Pak Ani dan istri terbiasa menerima tamu yang penasaran ingin mengetahui rahasia citarasa belacan Sijok. (fithrorozi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *