Maras Taun, Membuka Ruang Silat Baruga

SELAT NASIK, DISKOMINFO – Sejak dimulai tahun 2004 lalu, jumlah pengunjung Maras Taun di Selat Nasik mengalami peningkatkan cukup signifikan. “Kendaraan motor yang ke Selat Nasik 600 unit. Jika dikalikan 2 orang per unit, sudah 1200 orang“ ungkap Febriansyah, Plt Camat Selat Nasik saat menyampaikan sambutan pelaksanaan puncak acara Maras Tahun 2017 pada Minggu (16/4).

Pengunjung (baca: wisatawan) yang datang ini tidak terlepas dari dukungan dana dan nilai-nilai kebersamaan, kegotongroyongan yang dihimpun. Pasalnya kampung-kampung yang menggelar kegiatan yang sama jauh lebih kecil baik dari sisi pengunjung maupun dari materi yang disajikan.

Sejatinya maras taun akan menampilkan seni tradisi yang berakar budaya setempat. Namun kini mulai bergeser dari berorientasi seni budaya ke pariwisata. Meski keduanya saling melengkapi, namun indikator yang digunakan kerapkali berbeda. Keduanya akan sejalan jika upaya pelestarian terus dilakukan.

Menimbang minat kunjungan wisata, Maras Taun Selat Nasik Tahun 2017 ini mencoba kreatif dengan memperbanyak materi seni tradisi yang ditampilkan. Adalah Seni Bela Diri Pencak Silat “Baruga” tampil sebagai penyemarak pesta rakyat pulau Mendanau ini. Pencak Silat Baruga ini untuk pertama kalinya masuk dalam agenda Maras Taun. Sementara, keroncong Stambul Fajar yang biasanya tampil malam hingga fajar malah tampil di siang hari. Upaya kreatif sejatinya membuang ruang pelestarian budaya.

“Sebenarnya kami ingin menampilkan anak-anak tapi Pak Kades tidak kasih izin karena dikasih tahu juga mendadak.” Menurutnya, perkembangan pencak silat Baruga sudah lama berkembang di Bugis namun di pulau Gersik, diawali dengan gerakan bunga (gerakan pembuka) dilanjutkan dengan spreng (pertarungan) dengan gerakan keseluruhan berjumlah 12 gerakan. “Sekarang pencak silat sudah diminati anak-anak. Anggota dari anak sudah 30an anak“ ujar Marakarma yang diamini Ketua Pencak Silat Baruga, Zainudin.

Seni bela diri yang berkembang di Pulau Gersik sekitar tahun 1960an ternyata sudah sering ditampilkan di desa Pulau Gersik. Banyaknya anak-anak yang belajar seni bela diri menunjukan kuatnya upaya pelestarian seni tradisi meskipun seni bela diri tradisional ini belum terdaftar di Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) ini.

“Ini hanya untuk jaga diri saja. Silat ini tidak menggunakan alat (senjata) dan diiringi gendang dan gong. Kalau orang tua dulu tidak mengajar cara memukul gendang cukup diludahi saja tangan anak “ pungkas Ambo Rape.

Khazanah budaya yang ada di Indonesia tidak terlepas dari terbangunnya akar budaya daerah. Semoga, maras taun membuka ruang bagi beragam seni dan tradisi yang ada. (fithrorozi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *