Wisata Ke Mesjid Kembar

Peristiwa Isra’ Mi’raj mengingatkan umat muslim akan  perjalanan Rasulullah pada malam yang dingin tanggal 27 Rajab dari Masjidil Haram yang ada di Mekah ke  Masjidil Aqsa yang berada di negeri Syam, jauhnya puluhan kilometer. Perjalanan nyata yang biasanya ditempuh dalam 1 bulan ini ditempuh Rasullulah dalam 1 malam. Bagaimana jarak yang jauh ini bisa ditempuh dalam waktu yang singkat ?

Jawabnya karena mukjizat. Seperti halnya mukjizat Nabi Musa membelah laut dan mukjizat nabi-nabi lain namun banyak yang menganggap  mengada-ada. Terhadap hal ini, Dr. Zakir sebagaimana dilansir dari http://www.dakwatuna.com, menjelaskan bahwa banyak mukjizat yang menjadi keyakinan universal seperti bentuk bumi yang bulat, refleksi sinar bulan dan matahari yang berotasi. Hal ini dijelaskan dalam mukjizat Rasulullah yakni Al-Quran, yang didalamnya terdapat 1000 ayat tentang sains.

Sebagaimana manusia, kita sering dihadapkan pada sesuatu yang tidak masuk akal dikarenakan rendahnya ilmu yang kita miliki atau karena dikungkung fakta dan fenomena yang berlaku masa kini kita tidak yakin suatu perisitiwa bisa terjadi. Apakah benar Ahok meng-haji-kan marbot, sementara ia dituduh penista agama.  Atau ada seorang haji dinyatakan berselingkuh. Semua itu adalah fakta yang saling bertentangan dengan keyakinan kita.

Di Al-quran ada banyak peristiwa serupa, peristiwa yang dianggap tidak masuk akal lalu terbukti kemudian. Dalam semua ini berpulang pada perjalanan rohani kita masing-masing. Dengan sholat kita tunduk dengan kedangkalan kita sebagai manusia atas Zat yang Maha Mengetahui. Perintah sholat itu pertama kali diterima Rasulullah saat ia melakukan Isra’ Mi’raj.

Ketika pembangunan menggiring orang berpikir ekonomi, perjalanan menjadi alat mencari keuntungan material, takarannya pertumbuhan ekonomi tak salah karena Allah juga mewajibkan manusia untuk berusaha. Sebuah perjalanan wisata pada hakekatnya merupakan perjalanan batin. Orang rela mengeluarkan uang asal dirinya merasa nyaman baik dalam perjalanan maupun di tempat tujuan.

Ada yang tenang melihat pantai putih, terpuaskan dengan perjalanan penuh petulangan dan ada yang terpuaskan batinnya hingga menitikan air mata. Semua itu tergantung cara mengolah batin karena tidak semua merasa kecil berdiri dibawah batu besar Tanjung Tinggi.

Pengalaman ini dialami juga Haryati, mantan photografer yang sering mengunjungi mesjid-mesjid di nusantara. Suatu ketika ia berniat datang ke Belitung, mesjid yang ia tuju tak lain mesjid kembar Al Ikhlas yang berada di jalan  Penghulu, Desa Sijuk, Kecamatan Sijuk.

“Mesjid ini tertua di Belitung buk, di bangun  tahun 1817“ tutur pemandu menjelaskan kepada perempuan yang ditaksir berusia 60an tahun. Ia hanya diam, suasana pagi di masjid ini sepi. Tak lama ia memasuki masjid dan tercapailah maksud hati yang dipendam sejak dari bandara Soekarno-Hatta yakni untuk sholat Dhuha di mesjid kembar.

Tak lama, ia mengambil Qur’an tak sadar air matanya menetes menelusuri raut wajah tuanya. Si pemandu terkesima merasa ikut dalam sebuah perjalanan rohani yang banyak menyebut wisata religi. Baru kali ini ia membawa wisatawan begitu khusuk dalam mesjid, bahkan hingga meneteskan air mata.

“Maaf mas, saya terharu. Akhirnya saya bisa mengunjungi mesjid Sijuk ini” katanya sembari menghapus air mata. Melihat itu, pemandu pun mencoba memuaskan pelanggan dengan memberi penjelasan apa yang ia ketahui. “Mesjid ini dibangun tak lama setelah dibangun klenteng. Klenteng dan mesjid ini sama-sama tertua di Belitung buk” ujar pemandu.

“Ya, saya sudah tahu”.  Tak lama si wisatawan pun menjelaskan bagaimana ihwal orang Cina bisa membangun mesjid yang dikenal dari wisatawan religi sebagai mesjid kembar karena memiliki dua kubah berdampingan dengan bangunan yang  tampang mirip berbeda.

“ Klenteng dibangun tahun 1817 setahun kemudian (1817) barulah dibangun mesjid ini  beratap genteng. Kenapa genteng?“ kata Haryati sembari menyebut nama orang Tionghoa yang mendorong berdirinya mesjid. Tentu saja pemandu dari Tanjungpandan ini bingung, serinci itukah pengetahuan ibu ini, pikirnya.

Lalu ia mengisahkan, asal muasal genteng karena tidak ada pabrik genteng di pulau Belitung. “Genteng ini hasil tukar guling dari penduduk di pulau Karimun Jawa. Disana ingin menanam kelapa maka seperahu kelapa ditukar dengan seperahu genteng” kata Haryati. Jangan-jangan karena pengetahuan yang mendalam pula ibu ini begitu haru bisa sholat dan membaca Qur’an di mesjid kembar.

Pengalaman mengantar wisatawan melakukan perjalanan rohani ini sangat berkesan bagi pemandu. Takjub ia dengan pengetahuan ibu-ibu itu. Mesjid tidak dilihat karena keunikan bangunannya. Perjalanan pun dilanjutkan ke mesjid-mesjid jamiek yang ada di Tanjungpandan dan Manggar, setelah itu ia kembali ke Jakarta, tidak menikmati pulau Lengkuas, tidak melihat batu yang gagah di pinggir pantai. Di hati kecil pemandu, ia hanya berpikir perjalanan rohani menjadi logis ketika apa yang kita yakini didasari pada pengetahuan karena Islam mengenal dua dalil: agli dan nagli. Begitulah pemandu mengisahkan pengalaman mengikuti wisata religi seorang ibu kepada BuletingBelitong. (fithrorozi, sumber foto: dakwatuna.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *