Nazir dan Upaya Tukang Sol Emperan Mencetak Sarjana

TANJUNGPANDAN, DISKOMINFO – Hujan turun yang disertai kilat membuat suasana di emperan toko mencekam. Sesekali mereka yang berteduh berpindah mencari tempat yang tak mungkin terjangkau petir. Anak berseragam SD tak mampu menutupi rasa takutnya lalu bersembunyi dibalik tubuh ibunya. Tak terkecuali Nazir, tukang sol sepatu di emperan Jalan Merdeka Tanjungpandan yang ditemui tadi siang (4/5/2017).

Peralatan kerja seperti pisau, bantalan besi yang sudah menemaninya selama puluhan tahun disingkirkan. Dibiarkan payung penghalau panas meliuk-liuk diterpa angin. Kala petir tak terlihat, Nazir melanjutkan pekerjaannya. Hari ini ada lima belas pasang sepatu yang harus ia perbaiki. Karenanya, selagi petir tidak menampakan diri, ia tak bergeming meski hujan menerpa tubuh ayah dua anak ini.

Setidaknya ada 8 tukang sol sepatu yang mengais rejeki di sepanjang emperan toko di jalan Merdeka hingga belokan jalan di depan boulevard Kota Tanjungpandan. Tiga diantaranya punya hubungan keluarga. Contoh Nazir dan dua kakak iparnya. Namun keakraban tidak hanya didasarkan pada hubungan kekerabatan. Selain menjalin hubungan baik sesama tukang sol, mereka juga akrab dengan pemilik toko. “Kalau lebaran, saya biasa menerima jajak kaleng. Kadang juga ditawari makanan atau sayuran yang bisa saya bawa pulang“ tutur Nazir. Bahkan jika pesanan banyak dan kesulitan membawa pulang kerjaannya, Nazir menitipkan ke toko.

Disaat toko sepi ia menjadi teman bicara penghilang sepi. Nazir memang orang yang mudah akrab dia tak sungkan mengisahkan profesi yang dianggap sebagian orang rendahan. Namun siapa sangka, 3 dari 8 tukang sol itu membiayai kuliah anak mereka dari hasil jasa memperbaiki sepatu atau sandal yang rusak. Nazir malah termasuk pengekor dari tukang sepatu lain yang yakin dengan  rezeki tukang sol.

Ayah dari dua anak tahu persis kapan ia mulai pekerjaannya. “Tanggal 11 Juni sepuluh tahun lalu saya menjadi tukang sol sepatu. Pernah juga melaut, bekerja di bengkel lalu menjadi ojek sebelum jadi tukang sol sepatu” ujar Nazir. Tapi justru dari sol sepatu inilah  ia meyakini bisa membiayai kuliah anak. “Untuk rumah kos saya harus siap Rp650 ribu, bayar kuliah Rp3 juta per semester. Yang agak berat itu mengumpulkan uang untuk biaya mingguan. Seminggu biasa yang mengirim Rp300-400 ribu. Alhamdulillah semua dari uang sol sepatu” ujar Nazir yang biasa dipanggil Nacit.

Sepuluh tahun bukanlah rentang waktu yang pendek untuk meyakini sebuah pekerjaan. Bukan tak banyak orang yang berpenghasilan besar namun tak bisa membuat anaknya kuliah dan nampaknya kuliah bukan sekedar persoalan uang. Dibantu sang istri yang berjualan kue di rumah ia yakin bisa menyekolahkan dua anaknya. “Yang tua kuliah  di jurusan komunikasi dan yang bungsu kelas 3 SMP” kata Nazir.

Awalnya Nazir juga tidak begitu yakin bisa membiayai kuliah anaknya dari penghasilan tukang sol sepatu, namun dorongan rekan sesama tukang meyakininya. “Benar juga, bagaimana pun caranya semua untuk anak karena saya tak ingin seperti buah kelapa yang jatuh dari pohon. Jadi oranglah, terserah anak mau ingat apa tidak (dengan orang tua)” ujar Nazir ikhlas.

Dibawah derasnya hujan, Nazir berkisah masa-masa sekolah dulu, mulai dari Sekolah Dasar, ST hingga menamatkan STM karenanya ia bertekad agar anaknya tidak mengalami nasib seperti dirinya meski profesi tukang sol ini penuh dengan keberkahan.

“Teman saya itu sudah menjadi orang penting. Suryadi pernah jadi Wakil Gubernur Babel dan  Rustam bahkan masih menjabat Gubernur” ujar Nazir menyebut dua teman SD UPT Belitung dulu. Meski begitu ia tidak pernah memanfaatkan kedudukan temannya dan ia merasa beruntung temannya masih mengenal dirinya meskpun bekerja di emperan toko. Pernah suatu ketika ia dititipkan amplop berisi uang dari sahabatnya itu karena mereka memang bersahabat sejak kecil namun tak pernah bertatap muka.

Nazir menduga sahabatnya mungkin malu melihat profesinya, meski ia justru bangga dengan pekerjaan yang penuh berkah. “Saya bersyukur bisa mengkuliahkan anak hingga ke Perguruan Tinggi dari uang sol sepatu“ ujar Nazir yang mengaku tidak pernah meminta uang muka dari pelanggan dan harganya pun tidak dinaikkan “Dari dulu upahnya Rp20 ribu. Kalau sedang tidak rejeki, sepatu yang sudah diperbaiki tidak diambil. Masih banyak yang disimpan di rumah bahkan ada yang setahun belum diambil” kata Nazir pasrah. Dalam sehari ia bisa mendapatkan pelanggan 15 pasang sepatu.

Tak banyak warga Tanjungpandan yang tahu kalau profesi tukang sol sepatu bisa menyekolahkan anak hingga ke Perguruan Tinggi dan itu bukan dialami Nazir saja. Kunci yang terpenting menurut Nazir, jerih payah itu  harus dilandasi keikhlasan dan keinginan yang kuat untuk merubah nasib. Tak lama hujan pun reda bersamaan datangnya pelanggan baru yang membawa sepatunya yang rusak.

Keikhlasan Nazir menjalani profesi juga dibarengi kepasrahan terhadap Allah. Ia bukannya tak mendengar berita orang tua yang resah mendengar anak-anak siswa terlibat tawuran. Yang penting ia tak ingin seperti buah kelapa yang jatuh dari pohon.

Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, media memberitakan korban meninggal usai dinyatakan  lulus ujian. Dunia pendidikan tersentak, bak petir di siang bolong. Ada apa dengan sistem pendidikan kita. Klaten yang selama ini tenang tiba-tiba bergejolak padahal sebagian besar masyarakat Indonesia memahami Klaten yang identik dengan unsur budaya Jawa selama ini dikenal penuh dengan norma-norma kehidupan yang damai. Dari tanah  Jawa pula lahir ajaran Ki Hajar Dewantara Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayan’  hingga tak jarang pulau Jawa menjadi pusat pendidikan termasuk tukang sol sepatu emperan toko Tanjungpandan. Banyak sarjana yang mereka malah sudah mendapatkan pekerjaan di perusahaan di Jakarta dan menjadi pegawai di kampung sendiri. (fithrorozi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *