TANJUNGPANDAN, DISKOMINFO – Rumah mantri Blasting sulit dicari. Demikian pula dengan sebutan mantri Blasting, janggal di telinga. “Mantri Blasting itu sebutan untuk Kepala Pajak. Pak Azhar yang pernah menjadi Mantri Basting” ujar Muis. Kakek penuh uban ini membuatnya dikenal dengan panggilan Muis Uban.
Muis Uban lalu mengisahkan “Kembalinya anak Mastri Blasting” bernama Antasari Azhar. “Ooo, ternyata anak mantri Blasting”, ujar ibu Ramlah lawan bicara Muis Uban. Muis yang sudah pensiun sengaja bertandang ke rumah ibu Ramlah, rumah yang ia tempati di masa sekolah dulu.
Praktis, yang mereka bicarakan seputar masa lalu. Muis Uban termasuk sosok yang pandai berkisah, masa lalu menjadi menarik dan bisa diambil pelajaran jika ia yang menceritakannya. Bagi masyarakat Belitung yang sering ke Bandara Soekarno Hatta mengenal baik Muis Uban.
“Tahun 1965 ketika saya sekolah di Tanjungpandan ini sebutan mantri Blasting masih dipakai. Saya ingat karena anak pak Azhar, Antasari Azhar itu satu sekolah di SMP Tanjungpandan” kenang Muis Uban.
Sekarang, siapa yang tidak mengenal Antasari Azhar yang tak lain mantan Ketua Komisi Pemberantasan Komisi (KPK). Kiprahnya menegakkan hukum justru membuatnya didera masalah hukum sehingga ia harus mendekam di Lembaga Pemasyarakata. Pada 10 November 2016, Antasari Azhar dinyatakan bebas dan bisa menghirup udara segar, berkumpul bersama keluarga, menikmati masa tuanya.
Saat menikmati masa pensiunan inilah orang sering mengenang masa-masa lalu, mengunjungi tempat bermain di masa kecil, bersilaturahmi mengunjungi sanak kerabat. Bahkan tradisi beruwah pun menjadi cara mengenang masa lalu, tak terkecuali Antasari Azhar.
Belitung sering dikaitkan dengan nama-nama besar yang memberi pengaruh terhadap perjalanan kehidupan berbangsa seperti Antazari Azhar, Billy Judono, Surya Paloh, Eros Jarot, Slamet Raharjo Jarot. Sejatinya bukanlah lahir di Belitung tetapi ikatan emosi dengan pulau ini membuat mereka tak pernah lupa dengan masa lalu.
Seperti anak mantan petinggi Billiton Raad (Dewan Belitung), Billy Judono. Ia pernah tinggal di Belitung, Setidaknya kecintaannya terhadap Belitung terlontar saat ia mendengar kata ‘Lagere Schol Tanjungpandan’. Orangtuanya Marsidi Judono adalah dokter yang juga tokoh pergerakan di Belitung. Billiton Raad merupakan dewan rakyat (Volskraad) yang kini dikenal dengan sebutan Dewan Perwakilan Rakyat.
Kenang-kenangan masa kecil, membuat banyak orang ingin kembali ke Belitung seperti Antasari. Dua hari lalu ia datang ke Belitung menemui sahabat-sahabatnya. “Biasanya kalau ke Belitung, ia pasti menemui Kunrad“ tutur Muis Uban. Menurut Muis Uban, yang mereka bicarakan tidak terlalu serius, hanya kelakar-kelakar biasa, tetapi silaturahmi ini punya arti bagi keduanya.
Antasari memang punya kenangan karena ia menghabiskan masa kecilnya di Belitung. Sekolah di SDN 1 Belitung, menamatkan pendidikan SMPN Tanjungpandan tahun 1965 dan melanjutkan pendidikan SMP dan SMA di Jakarta hingga luas pada tahun 1971.
Kalau bukan sahabat atau kerabat, biasanya tempat yang menjadi alasan orang kembali ke Belitung. Beberapa bulan lalu sejumlah turis dari Amerika dan Belanda juga pernah datang ke Belitung hanya untuk melihat tempat-tempat biasa mereka bermain. Mereka tunjukkan foto era tahun 1950an. Bahkan diantara mereka ada meneteskan air mata begitu melihat tempat itu masih utuh tidak berbeda saat mereka tinggalkan.
Begitupun bernilainya sebuah kenangan, membuat salah satu pioner pertambangan kebangsaaan Belanda Cornelis De Groot menuliskannya dalam buku berjudul Herinneringen aan Blitong: Historisch, Lithologish, Mineralogisch, Geologisch en Mijnbouwkundig yang diterbitkan Denhaag, tahun 1887.
Selain mantri Blasting sejumlah istilah jabatan yang janggal di telinga antara lain mantri candu, tuan gudang, tuan kuase. Pulau ini menyimpan banyak nama, tempat dan cerita masa lalu yang sering membuat orang rindu. (fithrorozi)