Gedung Nasional, dari Orasi Bung Karno hingga Pertarungan Nasib Hatta

TANJUNGPANDAN, DISKOMINFO – Nama padang miring sudah jarang terdengar, namun fungsinya sebagai ruang terbuka publik masih berlanjut hingga sekarang ini. Pada tahun 1950, Gedung Nasional menjadi saksi sejarah kedatangan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno ke Belitung.

Ketika itu Bung Karno sedang dalam masa penahanan pemerintah Hindia di Menumbing, Mentok. Selama menjadi tawanan Belanda itulah, Ketua masa Partai Indonesia Muda (PIM) Burhan memohon kepada Bung Karno untuk berkunjung ke pulau Belitung. Gagasan Burhan pun diamini Bung Karno.

Begitu mendarat di pelabuhan udara Buluhtumbang, rakyat Belitung menyambut Bung Karno. Di Tanjungpandan, orator ulung ini sempat menyampaikan pidato kebangsaannya di Gedung Nasional. Semangat nasional pun menggelora.

Kini gedung yang menjadi saksi sejarah perjuangan bangsa ini ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya yang dikelola oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belitung. Acapkali halaman gedung nasional sebagai alun-alun kota menjadi sarana bagi kegiatan kebudayaaan seperti festival seni budaya, kampanye politik dan kegiatan yang banyak melibatkan masa.

Sore ini (26/5), wajah alun-alun dan Gedung Nasional tidak seperti biasanya. Sejumlah tenda biru yang dipenuhi barang dagangan berjejal meramaikan bazar menyambut bulan suci Ramadhan. Tradisi bazar ramadhan seperti ini sudah menjadi semacam tradisi pedagang mengadu nasib seperti Hatta. “Dua tahun lalu, saya juga berdagang disini. Lumayan pak untuk menghadapi lebaran” ungkap Hatta.

Untuk menempati petak dagangan, Hatta (50) menyewa dari penyelenggara seharga Rp4 juta selama sebulan. Pria asal Palembang sejak tahun 1990 sudah menjadi pedagang dan sejak Belitung masih bergabung dengan Provinsi Sumatera Selatan sudah mengadu peruntungan di Belitung.

“Waktu Belitung masih bergabung dengan Sumatera Selatan saya sudah berdagang di Belitung. Selain di Tanjungpandan saya juga sering ikut pameran di daerah lain termasuk di Manggar. Bedanya, di Manggar jumlah (petak) pedagang lebih banyak jadi pendapatan berbagi dengan pedagang lain. Harga sewa memang lebih rendah, bisa setengah dari harga di Tanjungpandan“ ungkap Hatta.

Hatta pun berkisah, liku-liku pedagang mengadu nasib, mengikuti bazar dari satu pulau ke pulau lain. “Dulu saya menjajakan batu cincin, tapi karena peminatnya sepi saya menjual asesoris HP“ ujar bapak 3 orang anak ini optimis bisa membawa untung untuk keluarganya di Jakarta.

Selain menjajakan batu cincin dan asesoris HP, bazar Ramadhan ini juga diikuti sejumlah pedagang makanan, toko meubelair, dealer motor hingga pengembangan perumahan.

Dengan membayar restribusi sebesar Rp2.500 per meter persegi ke kas daerah dan mengeluarkan biaya listrik Rp9 jutaan selama bazar, penyelenggara bazar Iskandar optimis dengan usaha yang ia jalani. Agar menarik pengunjung, Iskandar menyisipkan bazar dengan beragam lomba seperti lomba busana muslim, lomba beduk, lomba lagu religi dan berbuka bersama anak yatim.

“Jumlahnya lebih dari 29 petak diluar tarup (tenda) dengan harga sewa yang bervariasi. Untuk listrik kita menyewa daya 3 pass dari PLN dengan daya 13500 watt yang dibayar diawal sebesar Rp9 jutaan“ ujar Iskandar. Seperti Hatta, pria berdarah Minang ini sering menjajakan dagangan dari pameran ke pameran.

Baik Iskandar maupun Hatta berharap pengunjung bazar akan membludak memenuhi halaman Gedung Nasional. Padanan gedung cagar budaya dan bentangan tenda-tenda pedagang menjadi potret dinamika kota Tanjungpandan antara orasi kebangsaan Bung Karno dan pertarungan Hatta memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga pada lebaran nanti. (fithrorozi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *