Uniknya Parong Bulo Menggelar Hajat

MEMBALONG – Parong atau aik arongan atau aliran sungai, sedang bulo tak lain bambu. Konon, kampung Parang Bulo berawal dari kisah orang yang mengidap penyakit kulit yang disembuhkan oleh air dari parong dibawah kaki Gunong Gede. Entah kenapa kata parong berubah sebutan menjadi parang.

Sabtu lalu (21/5), salah satu warga menggelar hajat perkawinan. “Caranya beda dari kampung-kampung di Membalong. Jadi sayang kalau tidak datang“ ujar Sar’ie tokoh budaya desa Kembiri. Sosok Sar’ie lebih dikenal sebagai mahlijar (pemimpin) teater tradisional Dul Mulok ‘Tiang Balai’ desa Kembiri, kecamatan Membalong.

Pengetahuan Sar’ie soal tradisi budaya membuatnya dikenal di kalangan peneliti sebagai penggiat budaya dibandingkan sebagai pelestari Dul Mulok. Peneliti Senior LIPI bahkan menjulukinya ‘profesor’. Dari Sar’ie itulah kami mengenal banyak tradisi unik dan peran dukun kampong di dusun Parang Bulo.

Tiba di lokasi, Sar’ie memperkenalkan Ja’mat, dukun kampong Parang Bulo yang tengah duduk di Balai Dukun. Balai panggung berukuran 2 x 3 meter ini sengaja dibangun sebagai sarat utama menggelar hajat perkawinan di Parang Bulo, tidak menggunakan paku melainkan diikat dengan akar berebat. “Sebelum ada telasar, ruma gendang, tempat masak, tempat ini yang dibangun lebih dahulu. Tidak boleh dirobohkan sebelum gawai dinyatakan selesai“ ujar Ja’mat yang sudah 25 tahun menjadi dukun kampong Parang Bulo.

Balai dukun ini tidak boleh kosong, harus ada orang yang menjaganya selama hajat berlangsung tak terkecuali malam hari. Sembari mempersilahkan kami naik ke balai yang sudah tersaji aneka makanan. Makanan ini boleh saja di makan, namun enggan tanpa seizin dukun kampong.

Setumpuk dodol tampak terbungkus upe pinang. Disamping terdapat nasi kuning dalam wadah karung anyaman daun lais. Dukun pun mempersilahkan kapi menyeruput kopi yang sudah dituangkan. Kopi dan susu yang disuguhkan dukun baru saja diserahkan dari rumah sahibul hajat oleh dua perempuan yang membawa nampan berisi kopi keluar dari pintu yang berhadapan langsung dengan balai dukun.

Aneka ragam makanan ini disimpan di tempat yang lebih tinggi dan tidak boleh dihidangkan sebelum diserahkan ke balai dukun. Untuk meletakkan dan mengambil dari dan tempat menyimpan makanan melalui tangga disertai prosesi tabur beras kuning. Jika naik ditabur ke atas, hendak turun tangga ditabur ke lantai rumah. Sewaktu menuju balai tidak boleh dari luar rumah.

“Saratnya memang begitu, balai dukun harus senentang (berhadap-hadapan) dengan balai dan apapun makanan yang diantarkan ke sini adalah makanan yang disajikan selama hajat berlangsung dari lauk-pauk, kue , dodol sampai kopi dan susu” ujar Ja’mat menjelaskan syarat.

Dukun kampong memang tidak menentukan makanan apa saja yang disajikan semuanya berpulang pada sahibul hajat, namun harus diserahkan ke balai dukun. Ini menjadi syarat. Sebagian makanan ini dipisahkan lalu dimasukkan ke dalam tempurung kelapa. “Makanan dalam tempurung itu untuk urang sanak” ujar dukun sambil menunjuk Gunong Gede yang rimbun dengan pepohonan.

Dukun pun menjelaskan sebutan ‘urang sanak’ tak lain mahluk gaib yang turut memangku kepentingan masyarakat kampong bulo. Tidak hanya dalam urusan menggelar hajat perkawinan namun dalam bercocok tanam. Lantas Ja’mat mengeluarkan bungkusan berisi gulungan daun nipah yang sudah diikat, tembakau, kapur dan beberapa helai daun sirih.

Tanggungjawab dukun kampong menjaga kepentingan manusia dan makhluk gaib di alam membuat ritual dukun kampong Parang Bulo unik dibandingkan aliran perdukunan yang ada di kecamatan Membalong. Di Belitung dikenal dua aliran perdukunan yakni aliran malaikat dan aliran setara guru.

“Daun nifah ini menjadi rokok. Dibentangkan ujung menghadap Gunong Gede lalu digulung ke dalam. Maksudanya urusan diluar kampung (yang tidak terjangkau manusia) menjadi urusan urang sedang ke arah dalam menjadi urusan orang kampung“ tutur Ja’mat.

Ia pun lantas menjelaskan perannya sebagai dukun adalah menjaga keseimbangan mahluk gaib, alam dan manusia karena bagaimanapun yang berkepentingan terhadap alam ini tidak manusia tetapi ada mahkluk lain. Hewan? . “Tentu saja“ jawab dukun singkat.

Meski terkesan mistik, masyarakat Parang Bulo mengukur kemuliaan hajat perkawinan dari khataman Al-Qur’an karenanya disebut gawai gede. Kalaupun timbul kesan mistik dikarenakan dukun kampong selalu mempertimbangkan keberadaan mahkluk gaib agar tidak merusak hajat.

Ketika ingin menunaikan niat berkhatam dan mandi di parong sebelum berkhatam, sahibul hajat wajib menyampaikan kepada dukun kampong. Mandi di parong sebelum berkhatam dianggap kemuliaan. Setelah mandi, ditandu dengan joli, diarak dengan gendang ketimpul, rudat dan hadra sebagai bentuk kemuliaan kepada mereka yang akan mengkhatamkan Al-Qur’an. Begitulah cara masyarakat kampung Parong Bulo memuliakan mereka yang mengkhatamkan Al-Qur’an.

Menjaga alam dan tradisi telah menjadi pedoman masyarakat Parang Bulo. Mengkhatamkan Al-Qur’an adalah kemuliaan karena Qur’an diyakini sebagai pedoman hidup. (fithrorozi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *