TANJUNGPANDAN, DISKOMINFO – Melihat perkembangan pariwisata Belitong saat ini, anak muda punya ruang dan peran meningkatkan kecerdasan masyarakat membaca peluang usaha. Salah seorang anak muda itu adalah Laili Hayat. Lewat usaha kulinernya, Laili yakin bahwa anak-anak muda Belitung bisa mengambil peran di tengah perkembangan dunia pariwisata.
“Sangat optimis sekali ini (kuliner) bisa menjadi salah satu pencarian masyarakat asal mampu memanfaatkan apa yang di sediakan dengan sebaik-baiknya. Belitung tidak hanya kaya dari SDA nya namun juga kearifan lokal berupa kuliner tradisional akan menambah citarasa Belitong lebih fenomenal di mata dunia” ujar Laili yakin.
Delapan tahun lamanya, Laili memperjuangkan usahanya hingga ia yakin kuliner bisa mewujudkan mimpinya. “Aku merintis usaha makanan kurang lebih 8 tahun. Nah, waktu itu aku hanya jualan kue orang. Jualan keliling dari satu kantor ke kantor, dari sekolah ke sekolah sampai akhinya aku sekarang sedang aktif mengembangkan kuliner khas Belitong” ujar Laili berkisah.
Ruti burong berambin menjadi andalan Laili mengangkat cita rasa tradisi selain bijak dengan dinamika pasar. “Alhamdulillah ada penikmatnya biarpun sedikit. Sambil berjualan jajak ruti burong berambin, saya juga berjualan nasi uduk“ ujar Laili.
Kesuksesan itu tidak datang serta merta namun lewat perjuangan pantang menyerah dan keuletan. Bujangan yang lahir di Tanjungpandan 9 Desember 1987 paham makna berjuang. Selama 9 tahun ia berkeliling menjajakan kue sejak duduk di bangku SD. Seiring waktu Laila menangkap perilaku konsumen, ia melirik nasi uduk mengembangkan usahanya. Tentu saja nasi uduk perlu dikemas, hingga ia bisa membangun kedai Baper (Bawaan Laper). Nama ‘Baper’ itu melekat hingga sekarang.
Di bulan puasa, pintu amal terbuka. Amalan itu tak ubahnya ruang mencari keberkahan maka Laili memadukan amal dan berkah dengan mendongeng menjelang berbuka puasa. Laili memang sering tampil bersama anak-anak membawakan lagu-lagu religi.
Beragam profesi yang ia jalani membuat Laili dikenal sebagai anak muda yang bertalenta. Bakat itupun tidak muncul serta merta, bergaul dengan banyak komunitas meningkatkan wawasan dan bakatnya. Ia pernah mengenyam pendidikan tinggi, namun terhenti karena kendala biaya. Tak soal, justru sandungan biaya ini membuatnya giat berusaha. (fithrorozi)