Festival Tunas Bahasa Ibu ini diikuti oleh ratusan pelajar dan guru tingkat SD dan SMP dari sekolah-sekolah yang ada di Kabupaten Belitung dan Belitung Timur. Festival ini diisi dengan sejumlah lomba seperti mendongeng, pantun, pidato, menulis cerpen dan sejumlah lomba lainnya.
Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Dora Amelia menyebut Festival Tunas Bahasa Ibu merupakan rangkaian puncak dari tahapan revitalisasi bahasa daerah sejak tahun 2021.
”Dalam proses revitalisasi bahasa daerah kita telah melibatkan banyak pihak pemangku kepentingan,” ucap Dora
Sementara itu, Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Belitung, Soebagio menyampaikan upaya ini sejalan dengan visi untuk mewujudkan Belitung Maju, Inovatif, dan Berkelanjutan sebagai Maritim Kawasan Barat yang Berdaya Saing dan Berbudaya.
”Kegiatan FTBI membuktikan bahwa pelestarian bahasa ibu menjadi pondasi moral dan identitas bagi generasi digital masa kini. Bahasa dan budaya lokal merupakan salah satu pilar utama kita dalam pembangunan karakter daerah,” ucap Soebagio
Soebagio juga menyebut di tengah derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi, anak-anak harus tetap mengenal siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan bahasa apa yang menjadi nadinya.
”Jika bahasa daerah punah, hilang pula sebagian dari jati diri bangsa. Oleh karenanya, kita harus menyalakan kembali semangat pelestarian bahasa daerah agar tetap hidup dan tumbuh di hati generasi muda,” lanjut Soebagio
Berakhirnya festival ini sebagai momentum untuk memperkuat karakter generasi muda Belitung agar terus mencintai bahasa dan budaya daerah, serta menjadikannya sebagai bagian dari kemajuan yang berkelanjutan. (Narasi : Al /Editor : Arlan / Redaktur : Verry)
