Tanjungpandan, Diskominfo Belitung – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Belitung merilis perkembangan data Indeks Harga Konsumen (IHK) di wilayah Tanjungpandan untuk bulan Februari, Senin (2/3/2026) di Ruang Rapat BPS Kabupaten Belitung. Dalam rilis ini disebutkan wilayah Tanjungpandan mengalami tingkat deflasi month to month (m-to-m) sebesar 1,56 %.
Sementara itu BPS Kabupaten Belitung juga mejelaskan terjadi deflasi sebesar 0,77 % secara year to date (y-to-d). Namun dibandingkan Februari 2025 terjadi inflasi year on year (y-on-y) sebesar 2,16 % dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 107,16.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Belitung, Baiq Kurniawati menyebut bahwa Inflasi y-on-y terjadi karena kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks di beberapa kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,97 %; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,10 % ; kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 20,91% ; kelompok kesehatan sebesar 1,98 % ; kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,11 % ; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,78 % ; serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 5,22 %.
”Berdasarkan hasil pemantauan BPS di Tanjung Pandan, pada Februari 2026 terjadi inflasi y-on-y sebesar 2,16 % atau terjadi kenaikan indeks Harga Konsumen (IHK) dari 104,89 pada Februari 2025 menjadi 107,16 pada Februari 2026,” ucap Baiq.
Lebih lanjut, ia juga menyampaikan kelompok yang mengalami deflasi y-on-y atau penurunan indeks, yaitu: kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,49 % ; kelompok transportasi sebesar 0,04 % ; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,54 % ; serta kelompok pendidikan sebesar 39,07 %.
”Sementara, tingkat deflasi month to month (m-to-m) sebesar 1,56 % dan tingkat deflasi year to date (y-to-d) sebesar 0,77 %,” tambah Baiq.
Baiq juga menyoroti satu yang menjadi catatan di bulan Februari 2026 yaitu terkait konsumsi ayam ras yang sedikit berkurang dari sisi SPPG-nya dibandingkan dengan hari sebelum Ramadan.
”mungkin permintaan di pasar juga berkurang karena di bulan Ramadan, kemasan SPPG untuk anak-anak MBG bervariasi, tidak ke yang masakan gitu, tapi lebih ke makanan awet yang bisa dibawa pulang oleh anak-anak. Itu mungkin salah satu juga menjadi bahan informasi, kenapa harga ayam ras di awal Ramadan bulan Februari justru malah turun,” pungkas Baiq.
Melalui momentum rilis BPS setiap bulan melalui BRS inflasi Tanjung Pandan ini diharapkan sebagai penguatan komitmen bersama bahwa setiap kebijakan yang di ambil harus berbasis data, responsif terhadap kondisi rill masyarakat, dan berorientasi pada kesejahteraan bersama. (Narasi : AL / Editor : Arlan)
