Sarasehan Napak Sire : Menggali Makna Simbolis Tradisi Belitong

Tanjungpandan, Diskominfo Belitung – Rangkaian Festival Budaya Napak Sire dengan tema “Menjalin Silaturahmi dengan Seribu Lembar Sirih” resmi dimulai dengan kegiatan Sarasehan Napak Sire yang mengangkat tajuk “Mengupas Filosofi dan Kearifan di Balik Tradisi Nyirih Urang Belitong”, Senin (13/4/2026).

Kegiatan ini merupakan kegiatan yang masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata tahun 2026 yang digagas oleh Ligat Belitung Production. Bertempat di Rumah Adat Belitung, acara ini menjadi ruang pertemuan para pemangku kepentingan budaya daerah, mulai dari Dinas Pariwisata Kab. Belitung, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Belitung, Dewan Kesenian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Lembaga Adat Melayu Belitung, Dewan Kesenian Kab. Belitung hingga para pelaku seni dan budaya setempat.

Salah satu narasumber utama dalam sarasehan ini adalah Bapak H. Salim YAH, S.Pd.Ek, sejarawan dan budayawan Belitung yang telah lama mendedikasikan dirinya dalam pelestarian warisan budaya daerah. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa kata napak dalam bahasa Melayu Belitong berarti menyuap makanan ke dalam mulut, sementara siré merujuk pada sejenis tanaman merambat yang daunnya dikunyah bersama gambir, kapur, pinang, dan tembakau.

Menurut Salim, menyirih bukan sekadar kebiasaan lama. Ia adalah simbol sosial yang mencerminkan tata pergaulan dan penghormatan antarmanusia dalam masyarakat Belitung. Tradisi ini juga berfungsi sebagai hidangan penghormatan bagi tamu, alat pengikat dalam prosesi pertunangan, hingga sesaji dalam upacara adat dan kepercayaan.

Makna Tersembunyi di Balik Setiap Bahan

“Yang menarik, setiap bahan dalam tradisi menyirih ternyata menyimpan makna filosofis tersendiri. Sirih melambangkan sikap rendah hati dan berserah diri; pinang mencerminkan keikhlasan dan ketulusan hati; kapur bermakna kebersihan dan kesucian; gambir melambangkan keberkatan; tembakau bermakna kebersihan jasmani; cengkeh melambangkan saling melengkapi; serta kantip atau kacip yang bermakna seiya sekata dan mufakat bersama dalam mengambil keputusan,” ucap Salim.

Lanjut Salim menjelaskan susunan isi dalam tipak pun memiliki simbolisme yang dalam. Sirih sebagai atap, pinang sebagai batu, kapur sebagai semen, gambir sebagai batu bata, cengkeh sebagai paku, dan tembakau sebagai pengikat.

“Maknanya satu: seseorang yang datang membawa tipak untuk meminang berarti ia telah benar-benar siap untuk berumah tangga,” imbuh Salim.

Mengenal Perlengkapan Menyirih

Salim YAH juga memperkenalkan tiga jenis tempat sirih yang dikenal dalam adat Belitung, yakni tipak, keminangan, dan kerunjuk. Tipak digunakan dalam acara perkawinan dan kegiatan resmi, keminangan hadir dalam berbagai bentuk seperti bulat dan buah, sedangkan kerunjuk adalah wadah yang lazim dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam perlengkapan menyirih tersebut, terdapat sejumlah peralatan pendukung seperti cupu atau cembul sebagai tempat kapur, kantip atau kacip untuk memotong pinang, serta ketur sebagai tempat ludah. Semua peralatan ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari tradisi menyirih yang lengkap dan bermartabat.

Tarian Sekapur Sirih: Gerak yang Penuh Makna

Materi sarasehan kemudian dilanjutkan oleh Bapak Suchron, S.Pd.SD., seorang seniman yang dikenal sebagai salah satu koreografer Tarian Sekapur Sirih Belitung. Tarian ini kini kerab kali ditampilkan dalam berbagai acara adat maupun resmi di Kabupaten Belitung. Dalam pemaparannya, beliau mengulas makna di balik setiap gerakan dalam tarian tersebut yang berakar kuat pada budaya dan tata kehidupan masyarakat Belitung. Setiap gerak bukan sekadar ekspresi seni, melainkan cerminan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat.

Pembukaan Simbolis dan Menyirih Bersama

Diakhir kegiatan sarasehan menjadi pembukaan secara simbolis rangkaian kegiatan Festival Budaya Napak Sire oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Belitung, dilanjutkan dengan sesi menyirih bersama yang dipimpin oleh Ketua Lembaga Adat Melayu. Dalam sesi ini, peserta tidak hanya mencoba tradisi menyirih secara langsung, tetapi juga mendapat penjelasan mengenai tata cara dan etikanya. Salah satu hal yang ditekankan adalah pentingnya memperhatikan penempatan peralatan. Tipak, sebagai simbol kehormatan, tidak boleh diletakkan di sembarang tempat. Peserta pun dipandu mengikuti urutan menyirih yang benar sesuai adat yang berlaku.

Sarasehan Napak Sire ini menjadi langkah awal yang bermakna dalam rangkaian Festival Budaya Napak Sire 2026, sebuah upaya nyata untuk menjaga agar tradisi leluhur tetap hidup dan dikenal oleh generasi masa kini. (Editor : Arlan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *